-->

Kumpulan Puisi dalam Buku "You Are My Inspiration" Edisi Baru Part 2

    Selamat Sore Sahabat MeAyu Blog. Selamat Hari Minggu yang tadinya cerah sekarang hujan. Sejuk dan dingin udara kali ini. Bagaimana dengan harimu sekarang? semoga saja baik. Kamu jangan seperti aku. Yang mana ketika aku pendam hanya aku ungkapkan pada suatu tulisan. Taukah kamu? Tulisan yang benar-benar tidak jelas. Oh iya sahabat Meayu Blog. Kali ini aku akan melanjutkan puisi - puisi dalam buku yang sama ini yaitu "You Are My Inspiration". Semoga kalian suka.

Sama Halnya Denganmu


Bulan itu satu, Sama halnya denganmu
Bulan itu datang dalam malam.
Sama halnya denganmu. Hanya
saja bulan dalam nyata, kau
dalam mimpi. Dan bulan hilang 
ketika kuterbangun. Sama halnya
denganmu.

Namun, aku tetap bahagia. Bahagia
bukan melulu soal kekayaan,
ketenaran, kesuksesan, atau kecantikan.
Tapi ada dalam setiap hati masing -
masing. Jika bahagia dapat dibeli? Aku
pasti tidak akan mendapatkannya.
Karena telah habis orang - 
orang kaya. Jika bahagia ada di
suatu tempat? Aku pasti telat dan
tak akan dapat menuju ke sana.
Karena semua orang sudah lebih
dulu di sana. Sehingga aku kehabisan.

Serupamu, bahagiaku dalam
kebiasaanku. Sayamgnya, aku tidak 
tahu kapan aku akan pergi. Aku
tidak tahu kapan kau akan pergi.
Dan yang kusesali adalah, aku
tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.

Kalau aku bisa. Aku ingin
mengajakmu ke tempat-tempat yang
ingin aku tunjukkan. Sebelum kita
hilang. Itupun, kalau kamu bisa.
Karena melihatmu, sama halnya
melihat udara.


Kenangan Yang Tidak Kita Jalani


 Aku rindu dengan kenangan indah
yang tidak kita jalani. Adalah rindu
tentang ketika sangat mencintaimu.
Saat aku berpikir esok kita akan ke
mana. Berpikir tentang apa yang
kita akan lakukan. Aku rindu itu.

Semua tercatat rapi di rongga
pikiranku. Sembari memikirkan
larik-larik senyumanmu. Demimu.

Kita melakukan dalam hari yang
tak biasa. Dikejar oleh layaknya
harimau mengejar kelinci. Tatap
matamu perlahan semakin terpendar
menghiasi setiap langkahmu. Harapan
yang akan selalu bertambah lebih dan
lebih lagi.

Kubakukan waktuku untuk selalu
ada untukmu. Ketika selimut
hangatmu kini menjadi sahabat
terbaikmu. Aku menungguimu
setiap malam dan setiap saat kau
bangun. Berucap bahwa semua
akan baik-baik saja.

Dan binar matamu seolah berucap
bahwa kau juga baik-baik saja.
Meski kita saling tahu. Bahwa
waktu kita adalah sedikit.

Dan memang benar. Waktu
berjalan dengan kehendaknya. Kini
kusapihkan setiap rindu untukmu.
Aku tidak tahu kapan luka ini akan
terobati. Ketika sudah tanpamu di
sisiku.

Waktu terasa semakin panjang.
Langkahku kini tergontai tak diterpa
angin topan. Janji yang tak kurengkuh.
Kenangan tentang yang tidak kita jalani.
Dan kini janjiku adalah untuk selalu
mengunjungimu. Di sini. Demimu


Bukan Berarti


 Tanpa disadari aku senang
memperhatikan hal - hal kecilmu.
Aku senang karena aku sudah
terlanjur nyaman. Dan itu sudah
menjadi kebiasaanku.

Karena mengagumi atau mencintai
seseorang bukan berarti harus
mengucapkan atau menuliskan
namanya setiap hari. Tapi lebih
jauh daripada itu.

Antara aku ke tempat itu. Kau
boleh menuntunku masuk ke dalamnya.
Kau juga boleh menguncinya suatu
waktu. Sampai kau siap. Aku menunggumu.

Lalu pesanku terbang. Mengitari
laut sedang. Terombang-ambing
ombak yang memukul. Jatuh
dalam palung. Sulit ditemukan.
Pesanku tak tersampaikan.
Terlebih ketika dalam hujan
malam.

Tangis. Ada sebagian orang yang
memanfaatkan jatuhnya hujan untuk
menutupi tiap air mata yang jatuh
di pipinya.

Menengadah ke atas. Melihat
langit malam yang lebih hitam
dari hatinya. Jatuhnya pun disertai
ucap terima kasih. Karena telah
menutupi kepiluannya.
Air mataku dan air langit bersahabat
Saling memahami. Karena mereka
dapat bersatu dengan begitu singkatnya.
Lantas kita? Tetap saja terpisah.

Aku tidak bisa mengembalikan setiap
air yang jatuh dari mataku. Biarkan
ia mengalir di setiap sungai tanpa tepi.
Siapa tahu, air mataku dan air matamu
dapat bertemu.


Sebelum yang Menghantam


Serpihan itu membumi di hati
yang rapuh dengan rapi.
Bukan bagaimana ia jatuh,
tapi tentang sulitnya kembali/
Pada dunia nyata yang
membebani impian tuk bersama.
Sulit untuk mengingat
kebenaran, yang ada hanyalah lupa.

Lupa kalau rumah bukan tempat
untuk yang enggan tinggal.
Memaksa hanya menyebabkan
tiang itu semakin bobrok. Hancur
kemudian hanya tinggal air mata
dan ditinggalkan. Pertahankan keyakinan
niatmu, sebelum luka menghantammu.


Ketika yang Aku Tunggu Kembali


Akan ada di mana hal yang pernah
menyesalkan kita adalah hal yang kita
ucapkan terima kasih. Menunggu waku,
ataupun waktu yang tertunggu, sebuah
teori tentang kebaikan akan hilang
kepercayaannya. Ketika satu ketidakbaikan
lebih dan membahagiakan kita.

Tapi tetap. Menjadi orang yang benar-
benar baik adalah mereka yang memahami
kata baik dan melakukan hal yang baik
itu dengan baik.

Jadilah terbaik. Kata menunggu. Hanya
ditujukan kepada mereka yang berhasil
melewati awal menunggu hingga akhir
menunggu.

Aku sudah tidak bisa menunggu lagi.
Aku sudah tidak mampu menunggu lagi.
Aku sudah menyerah dengan kata
menunggu.

Ya, mungkin itu adalah akhir dari
menunggu yang kau maksud. Tapi
tidak bagiku. Menungguku adalah ketika
yang aku tunggu kembali. Ketika yang
aku tunggu kembali di sini.


Aku Tidak Ingat Apa-Apa


Pertama kali aku melihatmu. Aku tidak
ingat apa-apa. Apakah langit menyengat
kulitku atau betapa indahnya matahari
terbenam. Karena... aku hanya melihatmu.

Kamu adalah keindahan. Di setiap
helai bulu matamu adalah anugerah
darinya. Tawamu yang lepas seolah
aku ingin masuk di antara barisan gigimu,
yang kian hari makin membuatku sulit
untuk lepas dari keterpakuan. Ketika
matamu terpejam, itu sudah cukup. Lalu
kau buka dengan sengaja. Terima kasih,
aku melihat satu masa depanku. Bermain
dengan air dan cahaya.

Berdiri pun aku sulit. Kau melihatku
manja. Aku berikan tanganku tepat di
wajahmu. Lantas kau berdiri dan membawa
tanganku di setiap genggammu.

Aku tidak ingat kapan rasa ini mengikatku.
Rasanya sama seperti di detik berapa aku
dilahirkan di dunia ini?

Semua terjadi begitu saja. Bersamamu,
serupa menyelesaikan semua masalah
yang ada. Seperti berada di tengah danau
dan ditemani alunan suara indah dari
yang terindah. Walaupun hanya dua detik
kata-kata yang keluar dari mulutmu tentang
aku.

Ketika kita jauh, setiap dua detiknya
aku akan selalu ingat. Ketika kita
kembali ke tempat masing-masing
tak hentinya aku selalu menunggu kabar
darimu. Sampai aku lupa jika aku sedang
menunggu kabarmu.

Karena ada satu rutinitasku yang tak
akan pernah bosan aku melakukannya.
Yaitu..... menunggu kabar darimu dan
memberi kabar untukmu.

Sumber: Buku Kumpulan Puisi "You Are My Inspiration" by Panji Ramdana

    Sudah dulu yang bisa saya tuliskan. Ditunggu untuk Kumpulan Puisi dalam Buku "You Are My Inspiration" Edisi Baru Part 3

0 Response to "Kumpulan Puisi dalam Buku "You Are My Inspiration" Edisi Baru Part 2"

Post a Comment

Mohon Berkomentar Yang Bijak dan Sopan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel